Troloyo Makam Islam Trah Majapahit yang Ramai Peziarah Sejak Abad 19

Troloyo Makam Islam Trah Majapahit yang Ramai Peziarah Sejak Abad 19  – Makam Troloyo di Mojokerto tenar gara-gara ada makam Syekh Jumadil Kubro, kakek berasal dari Walisongo. Namun, kompleks pemakaman ini tetap menyimpan kisah yang tak banyak orang tahu.

Pemerhati Sejarah Mojokerto Ayuhanafiq mengatakan, potret Makam Troloyo di jaman lantas direkam dalam postingan William Barrington d’Almeida, penulis buku Life In Java. Buku tersebut diterbitan Hurst and Blackett London tahun 1864. d’Almeida mampir ke Makam Troloyo dalam kunjungannya sepanjang satu hari di Mojokerto.

Dalam tulisannya, lanjut Ayuhanafiq, d’Almeida menyebut Makam Troloyo bersama nama Kooboran Plataharan. Kompleks pemakaman di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto itu membawa luas kurang lebih 3,5 acre atau 152 ribu kaki persegi.

“Makam Troloyo di jaman lantas punya 4 plataharan atau kompleks makam yang lumayan luas dan 2 lainnya yang lebih kecil. Masing-masing kompleks pemakaman dikelilingi bersama tembok berbahan batu bata. Tembok khas Majapahit tersebut terlihat kokoh bersama tinggi kurang lebih 5 kaki 9 inci. Pada tiap tiap plataharan tersedia pintu masukknya. Antar komplek makam dihubungkan bersama jalur setapak,”

Ayuhanafiq menjelaskan, Makam Troloyo merupakan pemakaman bagi orang muslim sejak zaman Majapahit. Namun, tak seluruh orang Islam dimakamkan di area ini.

“Yang dimakamkan di sini orang Islam yang punya interaksi trah bersama Majapahit. Salah seorang yang dimakamkan paling akhir di Troloyo adalah Pangeran Mojoagung yang dikebumikan kurang lebih 40 tahun sebelum akan kehadiran d’Almeida atau kurang lebih tahun 1820-an,” terangnya.

Setidaknya terkandung 19 nama yang dimakamkan di Makam Troloyo. Di antaranya Syekh Al Chusen, Imamudin Sofari, Tumenggung Satim Singomoyo, Patas Angin, Nyai Roro Kepyur, Syekh Jumadil Kubro, Sunan Ngudung, Raden Kumdowo, Ki Ageng Surgi, Syekh Jaelani, Syekh Qohar, serta Ratu Ayu Kenconowungu.

Dari belasan makam yang ada, kata Ayuhanafiq, makam Syekh Jumadil Kubro paling banyak dikunjungi peziarah. Baik di jaman kini maupun pada tahun 1864 silam. Oleh d’Almeida, makam kakek para Walisongo itu dideskripsikan seluas 35 kaki persegi, dinaungi oleh cungkup, serta berlantai susunan batu bata.

“Para penziarah pada jaman itu mampir berasal dari bermacam area bersama banyak variasi tujuan. Ada yang minta kesembuhan dan panjang umur, dambakan mampu suami, tersedia terhitung berharap keselamatan gara-gara akan bekerja ke Sumatera,”

Sama bersama jaman 155 tahun silam, waktu ini para peziarah mampir ke Makam Troloyo bersama banyak variasi alasan dan tujuan. Setidaknya terkandung satu alasan yang jamak dilontarkan para peziarah. Yaitu Syekh Jumadil Kubro dipercaya sebagai Wali Allah SWT. Sehingga berdoa melalui Syekh Jumadil Kubro dipercayai lebih cepat dikabulkan.

Syekh Jumadil Kubro atau Jamaluddin Hussein Al Akbar lahir kurang lebih tahun 1270 sebagai putera Ahmad Syah Jalaluddin, bangsawan berasal dari Nasrabad di India. Kakek buyutnya adalah Muhammad Shohib Mirbath berasal dari Hadramaut yang bergaris keturunan ke Imam Jafar Shodiq, keturunan generasi keenam berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Setelah resign berasal dari jabatannya sebagai Gubernur Deccan di India, Jumadil Kubro traveling ke bermacam belahan dunia untuk menyebarkan agama Islam.

Sejumlah literatur lain menyebut Sayyid Hussein Jumadil Kubro traveling sampai ke Maghribi di Maroko, Samarqand di Uzbekistan lantas sampai ke Kelantan di Malaysia, Jawa pada jaman Majapahit dan selanjutnya sampai ke Gowa di Sulawesi Selatan. Dia wafat dan dimakamkan di Trowulan kurang lebih tahun 1376 masehi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *